Turnamen Final Grand Prix (GP) Bulu Tangkis tahun 2000 yang berulang kali diundur dipastikan akan digelar di Bandar Seri Begawan Brunei Darussalam 8-12 Agustus 2001. Turnamen penutup seri GP itu hanya diikuti pemain sampai peringkat 16 (tunggal) dan delapan besar (ganda) dunia itu berhadiah total 250.000 dollar AS.Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF) berharap agar pemain tunggal peringkat dua dunia Taufik Hidayat dapat mengikuti turnamen Final Grand Prix. Saat hal tersebut dikonfirmasikan, Sekretaris Jenderal PB PBSI Leo Ch Wiranta mengingatkan, Taufik masih terikat sanksi tidak boleh terjun di Final Grand Prix.
Sanksi larangan bertanding di Korea Terbuka dan Final Grand Prix tersebut dijatuhkan PB PBSI awal tahun 2001 menyusul kritikan pedas Taufik ke tubuh pengurus PB PBSI usai menjadi juara Asia November tahun lalu. "Perihal pencabutan atau penetapan sanksi tersebut merupakan bidang kerja Ketua Bidang Pembinaan dan kewenangan Ketua Umum PB PBSI," kata Leo hari Kamis (28/6).
Sementara itu PB PBSI mengirimkan daftar tambahan atlet yang akan mengikuti turnamen Malaysia Terbuka 17-22 Juli 2001. Selain para pemain senior mantan pelatnas seperti Ricky Subagja/Antonius Budi Ariantho, Andreas Setiawan/ Ade Lukas yang mendanai sendiri keberangkatannya, PB PBSI juga mengirim juara dunia Tony Gunawan/Halim Haryanto, pemain tunggal Arief Rasidi, dan Atu Rosalina.
Pelatnas pratama
Selain itu sejumlah pemain pelatnas pratama (yunior) juga diikutkan dalam turnamen tersebut. Mereka adalah Wiempie Mahardi, Dian Novita, Rossi Riani/Diah Novita, Enny ERlangga/Novita, dan alvent Yulianto/Hendra Gunawan. Alvent dan Hendra sejak awal pekan ini telah berlatih di bawah pelatih ganda putra senior Herry Iman Pierngadi.
Hendri mengakui, nomor ganda putra dibayangi masalah belum adanya regenerasi di balik kesuksesan dua ganda putra Indonesia Candra Wijaya/Sigit Budiarto dan Tony Gunawan/Halim Haryanto. Para pemain ganda pelapis sangat dibutuhkan bila Candra/Sigit dan Halim/Tony sudah melampaui masa "emas" mereka. Dengan belum adanya pemain baru, Herry memastikan, kedua ganda itu masih akan menjadi andalan Indonesia hingga Olimpiade Athena 2004.
Di samping Candra/Sigit dan Tony/Halim, pelatnas Cipayung sebenarnya masih memiliki satu ganda sebaya yang lain yaitu Flandy Limpele/Eng Hian. Sayangnya pasangan itu memiliki penampilan yang sangat labil.
Contohnya, Flandy/Eng Hian yang merupakan unggulan ketiga kalah di babak pertama Kejuaraan Dunia di Sevilla awal Juni lalu dari ganda Thailand Pramote Teerawiwatana/Tesana Panvisvas. Kekalahan dari peringkat 28 dunia itu lebih disebabkan Flandy/Eng Hian bermain sangat buruk.
Padahal dari segi teknik, kedua pemain itu tidak kalah dari Candra, Tony, Halim, atau Sigit. "Kalau soal Flandy dan Eng Hian sekarang tinggal bagaimana komitmen mereka sebenarnya di pelatnas ini. Kasarnya, mereka mau mencari apa? Teknik mereka bagus tetapi ingat itu hanya satu faktor," kata Herry.
Herry menegaskan, kelemahan kedua pemain itu adalah disiplin dan kesungguhan berlatih. Rabu kemarin, Eng Hian belum tampak berlatih di Cipayung sementara rekan-rekannya seperti Flandy, Sigit, Candra, dan Halim sudah berlatih usai liburan pekan lalu.
Menurut Herry, dia sebenarnya ingin memisahkan Flandy dan Eng Hian seperti pada Candra dan Tony pasca-Olimpiade Sydney. Pemisahan itu dimaksudkan agar kedua pemain tersebut mendapat "suasana" baru dan dapat motivasi segar dari pasangan baru mereka.
"Tetapi tidak ada pemain lagi. Memisahkan Candra/Sigit dan Tony/Halim tidak mungkin karena mereka sudah padu," jelas Herry. Dengan begitu kini tinggal bagaimana Flandy/Eng Hian mau meningkatkan komitmen mereka untuk berprestasi.
Untuk regenerasi, Herry baru memiliki sepasang pemain yunior Alvent/Hendra yang diharapkan dapat mengganti pemain senior. Namun, pemain yang berasal dari pelatnas pratama itu masih membutuhkan waktu lama untuk dapat setingkat dengan senior mereka.
"Saya butuh melatih dua tahun untuk memastikan keduanya punya prospek atau tidak," ujar Herry. Herry membutuhkan setidaknya satu pasang ganda yunior lagi. Bila terlambat, kemungkinan Indonesia bakal tertinggal di sektor itu beberapa tahun ke depan. (yns)